الثلاثاء، 26 مارس، 2013

MATI SURI


MATI SURI DAN RELIGIUSITAS
Pendahuluan
“Saya seperti berada dalam sebuah ruangan putih yang tak berujung, sangat luas tanpa dinding pembatas. Di sisi kanan saya terdapat sinar berwarna putih dengan pancaran cahaya terang yang sangat indah. Di dalamnya, saya melihat mendiang nenek, kakek dan kakak saya. Kakek Dan nenek melambaikan tangan sambil tersenyum, sementara kakak memanggil nama saya. Sinar putih itu menghembuskan angin yang harum semerbak. Di sebelah kiri, saya melihat sinar hitam berisi teman-teman saya yang telah meninggal sebelumnya. Bayangan mereka muncul satu persatu. Mereka mengajak saya ikut, tapi saya tidak mau. Dari sinar hitam itu bertiup angin berbau busuk. Saya pikir saya bermimpi, tapi ketika saya cubit tangan saya, saya merasa sakit. Saya juga mendengar suara gemuruh yang dasyat.
Tiba-tiba saya merasa sangat kepanasan. Saat itu segala dosa saya terbayang kembali. Entah mengapa, terlintas pikiran untuk shalat. Dan saat itulah saya terlempar “kembali” ke dunia nyata…. . Menurut dokter yang merawat saya, saya mengalami koma selama satu minggu lebih akibat komplikasi pada lever saya. Bahkan pada hari kedua, denyut jantung saya sempat terhenti..… …………… Saya sadar, saya baru ‘bertemu’ dengan kematian.
(Reader’s Digest Indonesia, 2003)
Cuplikan di atas adalah sebagian kecil dari sekian banyak ungkapan yang dituturkan oleh orang-orang yang pernah berada pada suatu kondisi yang dikatakan sebagai pengalaman dekat dengan kematian. Istilah yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk merujuk pada kejadian seperti itu dikenal dengan istilah ‘mati suri’. Di masyarakat kita, apabila mendengar istilah mati suri, maka biasanya akan membayangkan adanya seseorang yang telah meninggal lalu hidup kembali. Bahkan, di media-media massa kita, tidak jarang ditemukan cerita-cerita tentang bangkitnya seseorang dari sebuah pemakaman setelah beberapa saat atau beberapa hari dikuburkan.
Meski kematian itu merupakan salah satu fenomena hukum alam yang sudah pasti terjadi pada setiap orang, tapi berbicara atau mendengar seputar kematian itu memang masih banyak menyisakan misteri. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang yang selalu muncul dalam pikiran manusia, mulai dari apa sesungguhnya yang menyebabkan kematian, apa sesungguhnya yang terjadi pada saat seseorang mengalami kematian serta apa yang terjadi pada manusia setelah terjadinya kematian (Leahy, 1998).
Menurut Hidayat (2010), fenomena kematian merupakan salah satu fenomena dasyat yang sangat besar pengaruhnya pada kehidupan manusia dan termasuk tema yang paling banyak dikaji, tidak hanya terbatas dibahas dalam teks-teks keagamaan, tetapi bertebaran diberbagai bidang keilmuan; dari filsafat, antropologi, sosiologi, sastra, psikologi dan bidang-bidang humaniora lainnya.
Secara universal, pengaruh kematian itu bisa dilihat pada bagaimana manusia dari berbagai kultur agama maupun budaya memperlakukan dan memberikan perhatian yang besar pada fenomena yang bernama kematian itu. Berbagai macam tradisi atau upacara yang muncul dari berbagai budaya terhadap seseorang yang mati menunjukkan betapa perhatian manusia terhadap fenomena kematian manusia ini menjadi sangat spesial dan sakral. Beragam cara manusia melakukan ritual dan traidisi, baik menjelang maupun setelah kematian seseorang (Wikipedia).
Secara pribadi, pada umumnya manusia cenderung menolak atau minimal menghindari kematian (mortality). Kematian berarti akan berarkhirnya apa yang selama ini telah dirasakan oleh setiap orang. Secara psikologis, manusia memiliki naluri untuk mempertahankan kehidupan dan kekekalan (immortality). Oleh sebab itu, setiap manusia selalu berjuang untuk menghindarkan diri dari semua pintu yang akan mengantarkan kepada kematian. Secara psikologis, manusia memiliki naluri untuk mempertahankan kehidupan dan kekekalan (immortality). Banyak ajaran, kisah dan mitologi dari berbagai macam agama dan kebudayaan yang menggambarkan tentang obsesi manusia yang begitu besar akan kekekalan hidup (Hidayat, 2010; Sañjîvaputta, 1999). Bahkan, dalam beberapa karya kesusastraan universal, terdapat banyak ungkapan yang menggambarkan rasa kekekalan yang menyelimuti hati manusia. Pengalaman-pengalaman itu misalnnya dilukiskan oleh pengarang-pengarang kenamaan seperti Romain Ronald, Marcel Proust, Antonin Artaud, Julian Green, Tolstoi, Dostowieewski dan lain-lain (Leahy, 1998).
Fenomena kematian yang mendapat tempat yang begitu besar dalam lintasan pikiran dan perasaan manusia di segala jaman dan kebudayaan itulah yang menyebabkan bermunculannya usaha untuk terus menguak misteri-misteri yang masih menyelimuti seputar fenomena kematian. Dalam kerangka ilmu pengetahuan, usaha penelusuran misteri ini dilakukan dengan cara yang sistematis dan mengikuti metode-metode tertentu agar hasilnya benar menurut standar ilmu pengetahuan. Namun, dalam hal kematian ini karena belum ada metode dan teknologi empiris yang bisa memasuki ‘alam kematian’, maka para ilmuwan mencoba menelusurinya melalui pengalaman orang-orang yang pernah berada pada suatu kondisi yang dekat dengan kematian (Near Death Experience) atau mati suri (Sarwono dalam Soeboer, 2005).
Memang, mati suri itu mungkin bukan kematian itu sendiri. Maka, pengalaman-pengalaman yang dialami oleh orang-orang yang pernah mati suri mungkin juga tidak bisa dipastikan sebagai kejadian yang dialami oleh seseorang ketika menuju dan berada dalam kematian. Namun, setidaknya apa yang dituturkan oleh orang-orang yang pernah mati suri itu akan mendekatkan kepada pemahaman seputar kematian.
Kajian tentang Near Death Experience
Kata ‘mati suri’ merupakan istilah yang biasa dipakai di masyarakat untuk merujuk pada kejadian dimana terdapat orang yang telah meninggal dunia, kemudian beberapa saat atau mungkin beberapa hari kemudian hidup kembali. Artinya bahwa sebenarnya orang tersebut tidak benar-benar meninggal dunia, tapi hanya mengalami kejadian seperti orang yang meninggal. Meskipun istilah itu masih mengundang pro kontra, tapi istilah itu sudah terbiasa dipakai dimasyarakat kita.
Dalam ilmu Psikologi, pengalaman yang disebut mati suri itu dikenal dengan istilah near death experienche (NDE). Istilah ini dikenalkan pertama kali oleh seorang dokter bernama Raymond Moody pada tahun 1975 lewat bukunya yang sangat fenomenal yaitu Life After Life. 16 tahun sebelum diterbitkannya buku itu, sebenarnya Ian Stevensen yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Departemen psikiatri di Universitas Virginia telah mempublikasikan tulisannya yang menggambarkan fenomena tersebut meskipun belum memakai istilah NDE. Pada artikel itu, Stevensen menuliskan laporan dari seorang pendeta yang bisa menceritakan percakapan secara detail para tenaga medis yang melakukan operasi, padahal pada saat itu pendeta itu berada dalam keadaan bius penuh (general anesthesia). Stevensen juga memberikan catatan bahwa pada saat itu persepsi ekstrasensori sang pendeta mengalami peningkatan (Greyson, 2008).
Bahkan, jauh dari era modern ini, sebenarnya fenomena tentang mati suri ini telah dibicarakan sejak zaman Plato dimana diceritakan bahwa ada seorang prajurit yang bernam Er yang hidup kembali dari kematiannya (Baely Dan Yates, 1996). Hal ini menunjukkan bahwa tema-tema tentang pengalaman dekat dengan kematian ini sebenarnya tema abadi sepanjang zaman dan bukan hanya tema yang dimonopoli oleh para ilmuwan masa kini, meskipun sekali lagi mesti diakui bahwa sistematisasi pengetahuannya baru muncul di abad 20.
Para tokoh yang dianggap sebagai perintis dan berjasa mempublikasikan mati suri atau NDE ini selain Ian Stevenso dan Raymon Moody adalah diantaranya, Kubler Ross Dan George Rittche. Kemudian beberapa tahun kemudian disusul dengan penelitian-penelitian dan publikasi yang dilakukan oleh Kenneth Ring, Michael Sabom, Bruce Greyson, Nancy Evan Bush, serta Rawlings. Bahkan ada beberapa ilmuwan yang mempublikasikan pengalaman pribadi lewat buku-buku mereka, diantaranya adalah Betty J. Eady, Dannion Brinkley, Fenimore dan Atwater, dimana yang disebutkan terakhir ini merupakan penulis yang sangat produktif (Soeboer, 2005).
Karena semakin meluasnya minat terhadap tema seputar NDE serta demi memenuhi kebutuhan akademis para peneliti yang concern dengan tema ini, maka pada tahun 1981 didirikan sebuah Asosiasi mati suri pertama kali, yaitu IAINDS (The International Association for Near Death Studies). Asosiasi ini melakukan penelitian-penelitian di berbagai tempat dan negara, mempublikasikannya secara berkala, Saling berbagi pengalaman dan saling memberikan dukungan kepada mereka yang pernah mengalami mati suri. Sehingga pada saat ini keanggotaan IANDS bervariasi mewakili hampir setiap benua termasuk Antartika (www.iands.org).
Di Indonesia sendiri, sejauh pengetahuan penulis, belum banyak ilmuwan yang memberikan perhatian pada fenomena mati suri sebagaimana di negara-negara Barat. Hal ini bisa dilihat dari minimnya buku-buku atau penelitian-penelitian yang mengangkat tema ini. Padahal di Indonesia , menurut penulis, merupakan negara yang potensial untuk dilakukan penelitian-penelitian yang bertemakan tentang NDE ini, karena secara turun temurun punya kultur dan tradisi keberagamaan yang relevan dengan tema ini.
Tinjauan Teoritis tentang NDE
Near death experience (NDE) merupakan pengalaman seseorang yang diasosiasikan dengan kematian yang akan segera menghampirinya, mencakup sensasi-sensasi yang mungkin bisa berjumlah banyak seperti keluar dari tubuh; mengapung diudara; perasaan yang ekstrem; ketenangan, kedamaian dan kehangatan yang total; pengalaman keterputusan yang mutlak; dan kehadiran cahaya. Biasanya pengalaman-pengalaman ini terjadi pada kondisi setelah seseorang dinyatakan mati secara klinis atau sangat dekat dengan kematian, akan tetapi kemudian dia sadar atau hidup kembali (Wikipedia).
Secara lebih spesifik, Long (1998) mendefinisikan near death experience (NDE) sebagai sebuah pengalaman yang benar-benar hidup yang berasosiasi dengan kesadaran subyek bahwa dirinya keluar dari tubuh fisiknya pada saat dirinya terancam oleh kematian yang akan menghampirinya. Ancaman tersebut bisa berupa fisiologis maupun psikologis. Sedangkan Lommel et. all (2001) memberi pengertian bahwa NDE merupakan ingatan akan keseluruhan kesan selama keadaan kesadaran khusus yang mencakup elemen-elemen yang spesifik seperti; pengalaman keluar dari tubuh, perasaan yang menyenangkan, melihat sebuah terowongan, bertemu dengan anggota keluarga yang telah meninggal atau mengalami tinjauan ulang atas kehidupannya, baik sebagian maupun seluruhnya.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan beberapa kriteria sebagaimana yang disebutkan oleh Atwater (1998) yang harus dipenuhi sehingga seseorang bisa dikatakan mengalami mati suri atau NDE ini. Kriteria tersebut adalah ;
a. Konteks, yaitu kondisi melatarbelakangi atau menyebabkan subjek mengalamiNDE harus memenuhi salah satu dari kriteria berikut ;
§ Gejala-gejala atau tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa seseorang tersebut sedang sakit berat atau terluka, atau mengalami bentuk-bentuk krisis fisiologis lain seperti kecelakaan, atau
§ Harapan atau perasaan subjek atas kematian yang sebentar lagi dialaminya.
b. Isi, yaitu kesadaran intens, rasa atau pengalaman mengenai dunia lain. Episode ini dapat berlangsung singkat dan terdiri dari hanya satu elemen, atau lebih, bahkan panjang, dan terdiri dari banyak elemen. Biasanya elemen-elemen yang dialami diantaranya adalah ; melihat dan mengalami kerpisahan dari tubuh; perasaan atau kesadaran akan kematian; peningkatan kognisi yang pesat; kegelapan ataupun cahaya yang dirasakan sangat kuat; bergerak melalui lorong atau ruang yang gelap; sensasi terhadap gerakan atau perasaan akan suatu kehadiran; emosi dan perasaan yang membanjir, perjumpaan dengan orang-orang yang diketahui telah meninggal dunia; tinjaun ulang kehidupan; perasaan diadili karena akibat kesaalahan yang pernah ia perbuat; menerima informasi; memiliki rasa pemahaman terhadap segala sesuatu, misalnya mengetahui bagaimana alam semesta bekerja.; persepsi tentang hal-hal yang berkaitan dengan surga atau neraka; keputusan untuk kembali dan kembali kepada tubuh fisik (Kunhard, 1993).
Karena begitu bervariasinya isi pengalaman-pengalaman yang dilaporkan oleh orang-orang yang mengalami NDE, maka para ilmuwan berusaha mengklasifikasikan pengalaman-pengalaman tersebut kedalam beberapa segi, misalnya; dilihat dari segi tahapannya, dilihat dari segi kualitasnya ataupun dilihat dari segi karakteristik atau sifatnya. Kenneth Ring (1980) telah mencoba membagi isi pengalaman-pengalaman dekat kematian yang banyak itu ke dalam 4 tahapan NDE, yaitu ;
1. Perasaan damai pada saat kematian
2. Perasaan berpisah dari tubuh
3. Perasaan masuk ke dalam kegelapan
4. Melihat cahaya terang
5. Perasaan memasuki cahaya
Kemudian Raymond Moody (1988) juga telah menidentifikasi 10 kualitas dan karakteristik atau sifat yang dapat dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman dekat dengan kematian (NDE), yaitu ;
1. Merasakan kematian
2. Perasaan damai dan hilangnya penderitaan
3. Perasaan berpisah dari tubuh
4. Perasaan melewati sebuah terowongan
5. Perasaan bertemu dengan entitas yang sangat halus yang dapat dikenali seperti anggota keluarga, teman, malaikat atau figur-figur keagamaan
6. Perasaan naik ke surga secara cepat
7. Perasaan bertemu dengan wujud cahaya yang memancarkan cinta yang tanpa syarat. Wujud itu digambarkan sebagai Tuhan atau Allah
8. Melihat pemandangan, rekaulang kehidupan serta perasaan terjadinya pengadilan diri
9. Perasaan enggan untuk kembali ke dunia kehidupan ini
10. Perasaan melampau ruang Dan waktu, sehingga merasa bebas ke manapun sesuai dengan yang diinginkan.
Menurut studi yang dilakukan oleh Noyes Dan Slymne pada tahun 1978-1979, NDE bisa diklasifikasikan ke dalam 3 konstelasi kesadaran jika dilihat dari tipe kejadiannya, yaitu;
1. Tipe mistik; perasaan harmoni, mengalami pengihatan serta merasakan pemahaman yang luar biasa
2. Tipe depersonalisasi; hilangnya emosi, terpisahnya dari badan fisik serta perubahan perasaan terhadap waktu
3. Tipe hiperalert; merujuk pada peningkatan atau loncatan pemikiran (jiwa) yang sangat tajam atau ekstrim (Filippo, 2007).
Selanjutnya, dilihat dari segi kelompok orang yang mengalami NDE, Sabom (1977) juga membagi NDE ke dalam 3 kelompok, yaitu;
1. Kelompok Autoscopic, yaitu orang-orang yang merasakan meninggalkan tubuh mereka
2. Kelompok transendental, yaitu orang-orang yang merasa masuk ke dalam alam spiritual
3. Kelompok gabungan, yaitu orang yang mengalami NDE tipe autoscopic dan Dan juga mengalami NDE tipe transendental (Filippo, 2007).
Berangkat dari studi yang dilakukan oleh Atwater tahun 1994, maka pengalaman mati suri atau NDE ini dapat diklasifikasikan ke dalam 4 tipe dimana pengelompokan pengalaman ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu yang bersangkutan (Soeboer, 2005). 4 tipe itu adalah;
1. Pengalaman Awal
Pengalaman mati suri yang digolongkan pada tipe awal ini adalah mereka yang merasakan dirinya keluar dari tubuh, adanya sesuatu yang menyenangkan, atau suara yang bersahabat. Meskipun pengalamannya tidak saling berhubungan dan seringkali episodenya tidak lengkap, akan tetapi apa yang dirasakannya mempunyai pengaruh besar kepada perubahan dirinya. Misalnya apa yang telah diceritakan oleh Ernest Hemingway, seorang novelis yang terluka oleh pecahan peluru pada saat perang dunia I tahun 1918;
“Saya mati, Saya merasakan jiwa saya atau sesuatu yang berasal dari tubuh saya keluar, seperti Anda menarik saputangan sutra dari salah satu susdut kantong. Ia melayang-layang dan masuk kembali ke dalam tubuh, dan saya hidup kembali (Atwater, 1996 dalam Soeboer, 2005).
Pada rentang kehidupan selanjutnya, Hemingway sangat tersentuh dengan pengalamannya tersebut dan orang lain melihat perubahan yang besar pada karakternya.
2. Pengalaman yang menyenangkan
Pada tipe ini, orang yang mengalami NDE merasa bertemu dengan keluarga yang dicintainya yang telah meninggal, atau ‘bertemu’ dengan figur-figur relgius misalnya Tuhan, para nabi atau dewa atau para wali dan sebagainya, atau bertemu dengan makhluk-makhluk surgawi yang memberikan peneguhan bahwa hidup ini damai dan berharga, atau adanya dialog atau suara-suara yang memberikan semangat dan peneguhan tentang kehidupan.
Dalam perjumpaannya dengan dengan figure atau makhluk surgawi, atau bahkan Tuhan, subyek merasakan kasih sayang yang luar biasa dan tanpa syarat, sebagaimana yang diungkapkan oleh George Ritchie;
“Suatu kasih yang mengagumkan. Kasih di luar daya khayalku. KAsih ini tahu setiap hal yang tidak baik tentang diriku –pertengkaran-pertengkaran dengan ibu tiriku, darah panasku, pikiran-pikiran seksual yang tak pernah bias kukendalikan, semua tindkaan yang jelek, serta sifat hanya mementingkan diriku sejak aku lahir. Namun Ia menerima dan mengasihiku”(Ritchie, 1999 dalam Soeboer, 2005).
Setelah merasakan sperti itu, bisa jadi seseorang akan merasakan tekanan atau dorongan yang luar biasa untuk menyampaikan kasih yang dirasakannya dan mempunyai misi yang kuat untuk menyebarkan kasih dalam rentang kehidupannya.
3. Pengalaman yang menakutkan
Pada tipe ini, pengalaman subyek didominasi oleh perasaan sedih, perasaan yang secara emosional menyakitkan seperti rasa takut, teror, horor, kesepian, terisolasi dan rasa bersalah (Holden dkk, 2003). Yang termasuk pengalaman tipe ini adalah pengalaman yang mengerikan (terrifying), seperti pengalaman keluar dari tubuh dengan gerakan yang sangat cepat menuju sebuah terowongan yang gelap sehingga seseorang merasakan kengerian yang luar biasa. Demikian pula termasuk tipe ini adalah pengalaman yang berhubungan dengan gambaran mengenai neraka, misalnya ; pemandangan yang jelek sekali, munculnya makhluk-makhluk jahat, suara-suara yang sangat keras dan mengganggu, suara jeritan Dan berbagai penyiksaan.
4. Pengalaman Transenden
Pengalaman mati suri yang termasuk pada ketegori ini subyek paparan dimensi lain atau melihat penampakan yang melampaui kerangka berpikirnya, termasuk didalamnya juga pengalaman menerima ilham atau ‘wahyu’ mengenai sebuah kebenaran. Pengalaman transenden jarang memuat kandungan personal. Dan biasanya, subyek yang mengalaminya adalah orang-orang yang secara kejiwaan siap menerima kebenaran tersebut. Dalam bahasa Ring dan Valerino (1998), pengalaman ini disebut sebagai perjalanan menuju Sang Sumber Utama. Pengalaman ini beragam bentuknya, misalnya; seseorang merasa mulai dari menaiki sebuah cahaya sepanjang alam semesta, melihat proses penciptaan, atau menjadi saksi awal dan akhir sejarah.
Pandangan Agama-Agama terhadap Kematian dan Pengalaman Dekat dengan Kematian (NDE)
Sebagian besar pemeluk agama-agama di dunia berkeyakinan bawa kematian itu bukanlah akhir dari eksistensi manusia, tetapi lebih merupakan tarnsisi dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain. (Gallup & Castelli, 1989; Kellehear & Irwin, 1990; Klenow & Bolin, 1989). Bahkan kepercayaan bahwa ada kehidupan setelah kematian merupakan salah satu konsep tertua dari sejarah manusia. (Grof, S. & Grof, C., 1980). Berabad-abad, sebagian besar pemeluk agama-agama yakin bahwa yang mengalami kematian hanyalah jasad dan roh itu akan mengalami kehidupan yang abadi (Hick, 1980).
Agama-agama yang berbeda itu telah menyediakan struktur kepercayaan yang mensupport kebutuhan-kebutuhan sosial dan keberagamaan pemeluknya masing-masing. Ritual dan teks-teks yang sakral pada masing-masing agama telah menyediakan interpretasi-interpretasi keberagamaan yang berbeda tentang apakah kematian itu dan seperti apa setelah kematian.
Meskipun banyak perbedaan dalam kepercayaan keberagamaan, akan tetapi di sana terdapat kemiripan dalam memandang kehidupan setelah kematian. Salah satu kemiripan tersebut adalah keyakinan adanya kehidupan yang mengikuti kematian tubuh. Kemiripan yang lain adalah adanya kepercayaan antara gambaran dua kutub setelah kematian; tempat dibalasnya kebaikan yang berupa surga dan tempat dibalasnya kejahatan yang berupa neraka (Grof & Grof, 1980). Dan ternyata, gambaran-gambaran seperti itu juga dikenal atau terdapat di dalam pengalaman-pengalaman mendekati kematian (near death experience) sebagaimana banyak yang dilaporkan oleh para pemeluk agama-agama, baik Budha, Hindu, Islam, Kriten, Yahudi atau Mormon. Bahkan para penganut agnotis dan atesitik juga melaporkan NDE meskipun dengan peniadaan kepercayaan tentang sesuatu yang lebih besar dari pribadi personal dan kehidupan ini. (Filippo, 2007).
Agnostik dan Ateis
Secara prinsip, penganut Agnostik berpandangan bahwa tidak mungkin mengetahui apakah Tuhan itu ada dan tidak mungkin juga mengetahui apakah ada kehidupan setelah kematian. Sedangkan penganut Ateis berkeyakinan bahwa tidak ada Tuhan dan tidak ada kehidupan setelah kematian. Bagi mereka, kematian merupakan akhir dari eksistensi manusia (Filippo, 2007).
Akan tetapi, diantara para penganut agnostik dan ateis telah melaporkan pengalaman mati suri atau NDE. Dan pengalaman-pengalaman itu mirip dengan pengalaman-pengalaman NDE yang dilaporkan oleh orang-orang yang mempunyai kepercayaan keagamaan (Moody, 1977; Rawlings, 1978; Ring, 1985).
Kaum agnostik dan ateis melaporkan bahwa mereka mengalami perubahan keadaan kesadaran di mana mereka mendapatkan beberapa atau seluruh pengalaman-pengalaman yang dihubungkan kepada NDE. Kebanyakan mereka menginterpretasikan NDE mereka sebagai pandangan sekilas tentang kehidupan setelah kemataian (Rawlings, 1978; Ring, 1985). Meski sebelum NDE mereka tidak percaya pada kehidupan setelah kematian. Akan tetapi, sebagai akibat dari pengalaman tersebut, sebagian besar mereka segera berubah menjadi lebih spiritual dalam kehidupannya dengan membawa kepercayaan baru tentang kehidupan setelah kematian (Rawlings, 1978; Ring, 1985).
Bahkan, Rawling (1978) dalam penelitiannya melaporkan bahwa dia tidak melihat orang-orang ateis dan agnostik yang telah mengalami NDE itu menyisakan kepercayaan akan ketiadaan Tuhan, kepercayaan akan tidak adanya kehidupan setelah kematian dan kepercayaan tentang tidak adanya sesuatu di balik eksistensi materi.
Budha Dan Hindu
Bagi para penganut Budha, mereka percaya bahwa pada kematian itu ada kelahiran kembali ke kehidupan lain. Kematian diterima sebagai sesuatu yang tidak mungkin dielakkan dan tidak perlu ditakuti. Perilaku mereka dalam kehidupan ini menentukan derajatnya kelak pada kelahirannya di masa yang akan datang. Karma merupakan kekuatan yang tercipta karena perilaku seseorang atau bisa disebut sebagai efek dari perbuatan manusia. Karma baik -dimana ia didapatkan dari perilaku kasih sayang dalam kehidupan ini- akan mengantarkan eksistensi yang lebih tinggi pada kehidupan selanjutnya. Nirwana dapat dicapai dengan diperolehnya pemahaman tentang alam realita. Hal ini harus ditemukan melalui pengalaman-pengalaman dimensi lain dari kesadaran manusia (Klein, 1991, p. 103).
Tidak jauh berbeda denngan agama Buddha, dalam pandangan penganut agama Hindu, kematian itu mengakibatkan perubahan dalam hal bagaimana roh itu bertempat atau berada. Mereka percaya bahwa setelah kehidupan di dunia ini merupakan bagian waktu di surga atau neraka, tergantung bagaimana karma itu dibangun semasa hidup seseorang. Keputusan atau pengadilan terhadap kehidupan seseorang didasarkan pada karma yang telah dibangun pada kehidupan sebelumnya. Kelahiran kembali ruh seseorang ke kehidupan selanjutnya melalui perpindahan ruh itu ditentukan oleh perkembangan karma dan pemikiran masa lalu seseorang pada kehidupan sekarang. Pencarian seseorang akan kebahagiaan abadi akan berakibat pada kehidupan kembali ruhnya pada badan lain sampai jiwa tersebut belajar bahwa kebahagiaan dan keabadian itu bukan merupakan hasil dari pemenuhan seluruh hasrat tetapi dapat dicapai ketika semua hasrat dan kebutuhan itu tidak lagi menjadi kepentingannya (Adiswarananda, 1991; Elb, 1906).
Para penganut agama Hindu Dan Buddha juga banyak melaporkan pengalaman-pengalaman yang dapat diidentikkan dengan NDE. Dalam laporan penganut Hindu, pada saat mati suri, seseorang merasa masuk ke dalam surga yang berada di balik sapi (Ferris, 1991). Beberapa penganut Hindu di India Timur melaporkan bahwa mereka melihat surga sebagai tahta yang sangat besar dan sering dikembalikan ke kehidupan lagi karena ada kesalahan perhitungan. Sedangkan orang-orang Jepang melaporkan tentang pengalaman mereka melihat gambaran-gambaran simbolik, seperti sungai yang panjang, sungai yang gelap dan bunga-bunga yang indah (Mouro, 1992). Pada saat NDE, penganut Buddha melihat pribadi Buddha, dan penganut agama Hindu melihat Krishna. (Rawlings, 1978; Ring, 1980; Talbot, 1991). Perbedaan yang menonjol antara laporan NDE dari penganut agama Buddha dan agama Hindu adalah pada setting dan tokoh yang dilihatnya (Filippo, 2007).
Para pemeluk agama Budha dan Hindu mungkin akan memberikan interpretasi yang berbeda terhadap bagian-bagian tertentu dari pengalaman NDE mereka meskipun pengalaman-pengalaman itu bersesuaian dengan tahapan, karakteristik dan tipe-tipe lain yang dilaporkan orang-orang dari kultur dan agama lain. Beberapa penganut agama Buddha dan Hindu menginterpretasikan NDE sebagai gambaran kehidupan setelah kematian dimana hal itu mirip dengan gambaran-gambaran yang dianggap berasal dari beberapa pengalaman keberagamaan Timur tentang kematian dan hidup setelah kematian (Filippo, 2007).
Gambaran tentang kematian dan meditasi para penganut Buddha di Jepang memiliki kesamaan dengan gambaran kematian dan pengalaman dekat dengan kematian yang terjadi di Amerika modern (Becker, 1984). Dalam buku The Tibean Book of Dead digambarkan tentang Bardo, yaitu tiga tahap peralihanyang mengikuti sebuah kematian, yaitu pertama; seseorang yang meninggal melihat cahaya terang dari dari realitas sejati “Blinding Clear Light of Pure Reality”. Pada tahap kedua, seseorang yang meninggal mengalami penggantian kedewaan. Dan tahap yang ketiga adalah seseorang yang meninggal diadili berdasarkan perbuatan masa lalunya oleh Dharma Raja, Raja dan Hakim Kematian (Grof & Grof, 1980). Tiga tahap tersebut dalam hal isinya mirip dengan pengalaman NDE yang dilaporkan pada agama-agama dan budaya-budaya yang lain. Kemiripan itu mencakup perjalanan melewati beberapa tahap, misalnya; melewati terowongan, melihat cahaya terang, bertemu dengan wujud-wujud nonfisik, kekuatan-kekuatan yang terpancar dari astral atau pengalaman keluar tubuh (Out of body experience) dan adanya penghakiman terhadap kehidupan seseorang (Becker, 1985)
Islam
Meskipun banyak pendapat tentang bagaimana kehidupan manusia setelah kematian menjemput, tapi dalam kepercayaan Islam, secara umum dapat dikatakan bahwa kematian merupakan terhentinya kehidupan biologis dan beristirhatnya ruh di alam kubur sampai tibanya Hari Pengadilan. Sebagian Muslim percaya bahwa jiwa yang baik melihat Tuhan, sedangkan jiwa yang jelek melihat neraka yang telah menantikan mereka. Sejak waktu kematian sampai dengan waktu Pengadilan, pemeluk Islam percaya bahwa jiwa atau ruh berada pada keadaan seperti tidur tanpa mimpi dengan pengecualian kemungkinan melihat Tuhan (Galloway, 1991; Johnson & McGee, 1991).
Keyakinan tentang kehidupan setelah mati itu berdasarkan kepercayaan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan adanya hari kebangkitan dan pengadilan. Pada saat itu jiwa akan diadili berdasarkan perbuatannnya di masa kehidupannya, kemudian dilanjutkan apakah akan masuk surga bersama Tuhan atau dilemparkan ke dalam api neraka untuk pembersihan atas kesalahan atau bisa juga sebagai hukuman yang akan dijalani selamanya di dalam api nereka. Kebanyakan muslim percaya bahwa non muslim bisa mencapai surga hanya setelah masa pembersihan (Johnson & McGee, 1991).
Pemeluk Islam yang mengalami mati suri melaporkan bahwa mereka melihat dan bertemu dengan ruh-ruh yang telah dikenalnya (Flynn, 1986; Rawlings, 1978). Hal ini diperkuat oleh kepercayaan penganut Islam yang mengatakan bahwa ruh orang-orang yang beriman di surga menyambut ruh-ruh yang datang dan juga diperkuat dengan laporan-laporan tentang kesaksian orang-orang yang mendampingi orang yang akan meninggal (Holck, 1980; Moody, 1975, 1977; Morse, 1990; Ring, 1985).
Pada NDE penganut agama Islam, cahaya diidentifikasi sebagai Allah, sedangkan pada agama-agama lain, cahaya mungkin juga diidentifikasi sebagai Tuhan (Ring, 1985). Sebagian muslim menafsirkan NDE sebagai sekilas pandangan tentang kehidupan pasca kematian. Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa Isro mi’roj Muhammad sebagai pengalamannya memasuki alam kehidupan setelah kematian, di mana dia berjumpa dengan orang-orang yang telah mati, melihat surga dan neraka dan berkomunikasi dengan Allah (Caulino, 1991; Ring, 1985: Zaleski 1987).
Kristen
Kalangan fundamentalis dan konservatis menafsirkan Kitab Injil secara harfiah, dan mereka percaya bahwa ada surga dan neraka, dan percaya bahwa hanya kaum Kristiani saja yang diakui untuk masuk surga. Sedangkan yang lainnya dikutuk dan dimasukkan ke dalam neraka. Akan tetapi sebagian kalangan Kristen lainnya menafsirkan kitab Injil secara simbolis dengan mempertimbangkan bahasa dan kultur pada saat kitab Injil ditulis. Bagi mereka, surga dan neraka dipahami sebagai sebuah kondisi, misalnya surga sebagai kebahagiaan dan kedamaian sedangkan neraka sebagai penderitaan. Keduanya dipahami lebih dari sekedar tempat tertentu. Tanpa memperhatikan dimana kehidupan setelah kematian -sebagaimana yang telah ditafsirkan oleh kalangan konservatif maupun kalangan liberal sebelumnya-, penganut Kristen meyakini bahwa mereka akan mati dan setelah kematian itu, ruh mereka akan diadili dan selanjutnya akan hidup dalam kekekalan (Galloway, 1991; Johnson & McGee, 1991).
Bechtel, Chen, Pierce, & Walker (1992) melaporkan bahwa 98 % para pendeta yang telah disurvey ternyata telah familier dengan fenomena NDE dan lebih separoh dari mereka telah memberikan konseling kepada para jemaat yang pernah mengalami NDE.
Sebagaimana interpretasi pada penganut agama-agama lain terhadap NDE, para penganut agama Kristen juga melaporkan adanya pertemuan dengan figur-figur religius seperti Yesus, Maryam atau para malaikat (Flynn, 1986, Moody, 1977, 1988; Morse, 1990, Ring, 1980, 1985). Mereka juga melaporkan pengalaman-pengalaman yang mirip dengan OBE, pertemuan dengan entitas spiritual yang dapat dikenali, bergerak menuju cahaya yang terang serta merasakan kehadiran energi cinta yang mutlak (Moody, 1975, Morse, 1990).
Sebagian kaum Kristiani menolak adanya NDE dan menganggapnya sebagai tipuan dari setan. Mereka percaya bahwa seluruh NDE merupakan cara setan untuk menarik para penganut kristiani dari ajaran-ajaran kekristenan dan mengarahkan mereka kepada dosa (Harpur, 1992).
Namun, sebagian yang lain menafsirkan NDE sebagai sekilas gambaran dari keadaan setelah kematian yang bisa jadi terjadi sebelum penghakiman Tuhan. NDE dan pengalaman-penglaman yang mirip dengannya juga tercatat dalam Kitab Suci Injil (1952). Pengalaman-penglaman tersebut tidak digambarkan sebagai hal yang buruk atau dosa. Akan tetapi lebih merupakan gambaran yang positif misalnya cahaya yang terang, kilas balik tentang kehidupan, munculnya cinta Tuhan yang tanpa syarat, penglihatan terhadap surga atau neraka dari orang-orang yang hampir menemui ajal (Morse, 1990; Rawlings, 1978).
Secara konsisten NDE yang dilaporkan merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi orang yang mengalaminya untuk mengungkapkan melalui kalimat-kalimat tentang apa yang dialaminya. Hal ini misalnya terlukiskan dalam surat Rasul Paul kepada Corinthians tertulis bahwa Paul diangkat ke surga untuk mengunjunginya dan untuk mendengarkan sesutau yang sangat sulit untuk didiskripsikan melalui kata-kata (Filippo, 2007).
Menurut Flynn (1986), NDE pada penganut kristiani menegaskan sebuah keunikan, sentralitas dan sangat pentingnya keberadaan Yesus tapi tetap dalam perspektif universal yang tidak menegasikan dan mengurangi nilai-nilai dari tradisi agama-agama lain. Bahkan, NDE juga akan memecah sektarianisme dan hambatan-hambatan religiusitas yang lain serta ia akan menjadi cahaya yang akan mengantarkan kebenaran esensial dan makna dari kehadiran Yesus untuk semua manusia.
Sebelumnya, Ring (1985) juga pernah mengungkapkan pendapat yang mendukung pendapat Flyn tentang keuniversalan orientasi spiritual yang mengiringi NDE. Dia menemukan bahwa penganut Kristiani yang mengalami NDE cenderung berubah menuju kepada pemahaman keagamaan yang menyatukan dan mentransendensikan pandangan kristiani tradisional.
Yahudi
Secara umum agama Yahudi menekankan pada kehidupan sekarang bukan kehidupan setelah kematian. Meskipun Yahudi mengakui bahwa kehidupan ruh itu tidak berhenti pada saat matinya tubuh, tetapi tugas orang Yahudi adalah fokus pada hidup yang bermakna dan tidak spekulatif pada kehidupan setelah kematian (Filippo, 2007).
Penganut Yahudi tradisional percaya bahwa konsep kekekalan akan menyebabkan munculnya kepercayaan akan kebangkitan tubuh dan jiwa yang kemudian diikuti dengan penghakiman oleh Tuhan atas perbuatan mereka selama hidup. Sedangkan penganut Yahudi modern berkeyakinan bahwa kebangkitan itu hanya berupa jiwa saja. Akan tetapi kedua-duanya sepakat bahwa hidup dan mati hanya satu kali (Ponn, 1991).
Banyak penganut Yahudi yang percaya bahwa setelah kematian mereka akan dikumpulkan kembali dengan keluarga mereka. Keyakinan mereka kepada kasih sayang Tuhan akan menyebabkan mereka terhindar dari hukuman di neraka. Pintu menuju surga adalah perbuatan baik dan penyesalan atau tobat (Ponn, 1991).
Mereka melaporkan bahwa pada saat mengalami NDE mereka merasakan kehadiran cahaya dan dihakiminya kehidupan mereka (Harris & Basscom, 1990). Mereka juga melaporkan bahwa mereka merasa bertemu dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Laporan ini mirip dan konsisten dengan kepercayaan Yahudi bahwa setelah kematian itu mereka akan dipersatukan dengan anggota keluarga mereka di surga (Galloway, 1991; Johnson & McGee, 1991; Moody, 1975; Ring, 1980, 1985).
Efek Perubahan Religiusitas dan Spiritualitas dari Pengalaman Mati Suri
Meskipun NDE masih banyak menimbulkan banyak pertanyaan, sehingga tidak sedikit para ilmuwan yang berpendapat bahwa NDE itu merupakan fenomena halusinatif pada diri seseorang (Susan, 1993); (Britton & Bootzin, 2004), akan tetapi NDE ternyata memiliki efek perubahan yang sangat signifikan pada diri seseorang.
Selain perubahan fisiologis dan psikologis, pengalaman mati suri juga membawa perubahan pada dimensi religiusitas dan spiritualitas. Dua istilah tersebut penulis sebutkan karena masing-masing mempunyai orientasi makna yang sedikit agak berbeda. Istilah religiusitas penulis maksudkan sebagai dimensi-dimensi yang memiliki keterikatan formal dengan agama secara kelembagaan dan emosionalitas, misalnya tentang keyakinan, praktik peribadatan, pengalaman ruhani atau batin yang sangat khas pada masing-masing agama dan sebagainya. Sedangkan spiritualitas penulis maksudkan sebagai dimensi yang lebih universal yang sebenarnya sangat mungkin dialami oleh masing-masing pemeluk agama, misalnya perasaan kerinduan kepada Sumber Kebenaran Utama, kedamaian batin ketika terjadinya penyatuan dengan alam semesta dan sebagainya.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan, ternyata pengalaman mati suri dapat membawa perubahan dan memunculkan nilai-nilai baru yang positif pada diri subyek yang mengalaminya. Nilai-nilai positif tersebut diantaranya adalah bahwa pada beberapa penelitian, ternyata NDE dapat menyebabkan menurunnya tingkat ketakutan seseorang pada kematian (Gyeson, 1983). Sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan bahwa kematian merupakan salah satu fenomena yang ditakuti atau minimal dihindari oleh setiap orang. Maka dengan berbagai macam cara, manusia berusaha untuk menutup pintu yang akan mengarahkan pada kematian. Dan ternyata bagi orang-orang yang telah mengalami NDE, kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menghantui. Tapi mereka lebih bisa menerimanya sebagai sesuatu yang sudah pasti dialami oleh setiap individu.
Setelah mengalami NDE, subyek menjadi yakin atau semakin yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian terjadi (Gabbard, 1981). Oleh karenanya, mereka sangat mudah untuk mengurangi rasa duka akibat kematian saudara atau keluarga atau sahabat mereka yang mereka kasihi sebab mereka meyakini sebenarnya orang-orang yang meninggal itu tidak mati, tapi mereka masih hidup meski di alam yang berbeda.
Lebih jauh lagi, para subyek yang mengalami NDE menunjukkan peningkatan religiusitas yang signifikan. Itu tampak dari semakin meningkatnya dua points yang telah disebutkan sebelumnya dan ditambah lagi dengan munculnya kesadaran serta pemahaman berkaitan dengan eksistensi Tuhan dalam agamanya sendiri atau pemahaman tentang eksistensi Tuhan yang dipahami oleh penganut agama lain (Zaleski, 1987). Kemudian, mereka juga memprioritaskan nilai-nilai etis-religius dalam kehidupan mereka dan untuk kehidupan setelah kehidupan sekarang ini.
Adapun nilai-nilai itu disebutkan Kunhartz (1993) dalam artikelnya, diantarnya ;
a) Cinta yang tanpa syarat kepada manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
b) Lebih harmonis, lebih toleran dan lebih simpati kepada orang lain serta dibarengi dengan kesadaran yang tinggi untuk selalu mengevaluasi hubungannya dengan orang lain.
c) Mempunyai komitmen yang tinggi untuk melakukan kegiatan-kegiatan social
d) Menolak matrialisme, nilai-nilai yang dari luar yang bersifat artifisial
e) Mempunyai keadaran yang tinggi terhadap hal-hal yang berkaitan dnegan keseimbangan alam semesta
f) Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kehidupan seseorang. Hal ini terutama pengarauh dari kesaksian dia tentang tinjauan ulang kehidupannya pada saat dia mengalami mati suri.
g) Mempunyai penghargaan yang sangat tinggi terhadap pengetahuan dan kebijaksanaan seseorang
h) Terjadinya peningkatan kapasitas fisik yang jelas, khususnya didapatkannya kemampuan pengobatan (healing abilities)
i) Sembuhnya penyakit-penyakit psikologis dan psikhiatris, misalnya terbebasnya seseorang dari ketergantungan terhadap obat-obatan adiktif.
Sebagian besar dari nilai-nilai religiusitas yang merupakan akibat dari pengalaman mati suri di atas juga termasuk nilai-nilai yang ada pada dimensi spiritualitas. Bisa dikatakan bahwa spiritualitas itu jiwanya agama. Tetapi orang yang menganut sebuah agama, belum tentu ia memiliki spiritualitas.
Nilai-nilai dan pengalaman yang didapat ketika dan pasca pengalaman dekat dengan kematian (NDE) ternyata mirip dengan pengalaman-pengalaman batin yang dialami seorang mistikus. Ciri-ciri pengalaman mistis itu diantaranya adalah perasaan damai, bahagia, pengalaman tak terlukiskan, merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar atau agung atau yang transenden serta pengalaman merasakan cahaya yang luar biasa. Ciri-ciri tersebut secara umum mirip dengan ciri-ciri pengalaman dan nilai-nilai pada NDE.
Judith Cressy pernah membandingkan antara fenomenologi NDE dengan efek setelah pengalaman mistik dari St. Teresa of Avila dan St. John of The Cross. Kesimpulan studi tersebut adalah bahwa keduanya memiliki persamaan, yaitu; perjalanan di luar tubuh yang ekstatik, melihat Tuhan, adanya kewaskitaan (tembus pandang), hilangnya rasa khawatir akan kematian dan adanya transformasi kesehatan. Cressy juga menggarisbawahi bahwa mendekati kematian selalu menyebabkan berperannya jalan spiritual (Greyson, 2007).
Meskipun demikian ada perbedaan antara pengalaman mistik dan pengalaman NDE dari segi kemunculannya pada dimensi spiritualitas manusia. Bila pengalaman mistik biasanya didahului dengan persiapan-persiapan atau upaya-upaya tertentu agar pengalaman mistik itu hadir dalam dimensi spiritual seseorang. Akan tetapi tidak demikian dengan pengalaman mati suri, ia hadir secara tiba-tiba pada saat seseorang terancam oleh kematian –baik secara fisik maupun psikis.
Kesimpulan
Mati suri atau near death experience (NDE) –terlepas dari pro dan kontra yang melingkupinya- ternyata memberikan perubahan keberagamaan yang signifikan pada orang yang mengalaminya, baik perubahan pemahaman tentang kehidupan dan kematian maupun perilaku dalam kehidupan kesehariannya. Perubahan itu cenderung mengarah kepada kutub yang positif, misalnya berupa; semakin kuatnya kepercayaan tentang adanya Tuhan dan akan adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan semakin religus, cinta dan kepedulian kepada sesama manusia lebih meningkat, rasa tanggung jawab terhadap keseimbangan alam semesta menjadi lebih tinggi dan sebagainya.
Berbagai pengalaman dekat kematian (NDE) yang dilaporkan oleh orang-orang yang pernah mengalaminya ternyata memiliki kemiripan, baik dari tahapan maupun kerakteristiknya. Kemiripan itu bahkan dapat dilihat pada pengalaman-pengalaman dari orang-orang yang memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda. Kemiripan itu misalnya; pengalaman keluar dari tubuh, mengalami cahaya, berjumpa dengan ruh-ruh keluarga atau orang-orang yang dekat dengan mereka dan sebagainya.
Meskipun secara umum terdapat banyak kemiripan yang terdapat pada pengalaman-pengalaman NDE antar pemeluk agama yang berbeda, tetapi di sana juga ada perbedaan, terutama pada setting dan interpretasi individu terhadap apa yang dialaminya. Misalnya saja jika pemeluk agama kristen dan pemeluk agama Hindu sama-sama merasa berjumpa dengan figur keagamaan mereka, maka seorang kristiani merasa berjumpa dengan Yesus, sedang pemeluk agama Hindu meresa berjumpa dengan Krishna.
Dalam konteks keberagamaan, seseorang yang pernah mengalami NDE cenderung akan lebih meningkat keberagamaannya. Bahkan seseorang yang sebelumnya tidak mengakui keberadaan Tuhan dan adanya kehidupan setelah kematian, menjadi cenderung untuk menerima dan mengakuinya. Dan yang menarik lagi lag adalah bahwa peningkatan keberagamaan mereka itu dibarengi dengan meningkatnya penghargaan terhadap pemeluk agama lain. Sehingga mereka cenderung menjadi pemeluk agama yang lebih toleran dan spiritual.
DAFTAR PUSTAKA
Adiswarananda, S. (1991). Hinduism. In C. J. Johnson & M. G. McGee (Eds.), How different religions view death and afterlife Philadelphia, PA: The Charles Press. (pp. 85-104).
Bailey, L. W. & Yates, J. (1996). The Near Death Experience: A Reader. New York London
Becker, C. (1984, Spring). The Pure Land revisited: Sino-Japanese meditations and near-death experiences of the next world. Anabiosis - The Journal of Near-Death. 4, pp. 51-68.
Britton, W. B. & Richard R. B. (2004). Near-Death Experiences and the Temporal Lobe. Psychological Science. Vol. 15, No. 4 : 254-258
Buzzi, G. (2002). Correspondence: Near-Death Experiences. Lancet. Vol. 359, Issue 9323 : 2116-2117.
Couliano, I. P. (1991). Out of this world - Otherworldly journeys from Gilgamesh to Albert Einstein. Boston, MA: Shambhala.
Ferris, T. (1991, December 15). A cosmological event. New York Times. pp. 44-53.
Filippo, Dr. David San. (2007). Religious Interpretations of NDE. www.near-death.com
Freud, S. (1961). Thoughts for the times on war and death. The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud. Vol XIV. Strachey, J. (Trans.) London: Hogarth Press Ltd.
Gabbard, G.O. MD, Twemlow, S. W. MD & Jones, F. C. ED. (1981). Do 'Near-Death Experiences' Occur Only Near Death?. The Journal of Nervous and Mental Disease, Vol. 169, No. 6 :374 – 377
Galloway, P. (1991, May 8). Heavens, what's next?. The Orlando Sentinel. pp. E-1,3).
Gallup, G. & Castelli, J. (1989). The people's religion. New York: MacMillan Publishing.
Greyson, B. (1983). Near Death Experience and Personal Values. Journal of Psychiatry, 140:5, 618-620
Greyson, B. (2007). The Mystical Impact of Near Death Experience. The Frontiers Of Consciousness. No.17

‏ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق